Guna Membaca Bagi Masa Depan

Guna MembacaHal yang paling menarik untuk ditanyakan dalam hal membaca adalah apa ada gunanya membaca? Apa bermanfaat? Apakah juga dapat membuka wawasan berpikir kita? Apakah juga dapat meningkatkan kehidupan kita?

Sebagian pihak tanpa pikir panjang, akan menjawab, “ya”. Itu karena telah banyak buktinya. Pernyataan sastrawan Seno Gumira Ajidarma bisa dikatakan sepenuhnya betul. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia membeli suratkabar atau majalah tak lebih hanya untuk mengetahui gosip selebritis. Atau hanya ingin membaca sinopsis sinetron atau drama.

Kalau begitu, penekanan membaca di sini apa? Membaca di kalangan pelajar, jelas bukan membaca buku sastra. Buku sastra? Mungkin sebagian akan menjawab, no way. Alasan pertama, jelas siswa tidak tertarik dengan tema-tema sastra yang berbau cerita seputar kehidupan dengan rangkaian kalimat yang terlalu didramatisir. Sangat bertolak belakang dengan selera remaja yang cenderung lebih berminat pada hal-hal berbau teknologi dan futuristic. Sementara tema-tema tersebut jarang ada dalam karya sastra kita. Kita jelas juga tidak bisa menyalahkan satu pihak saja, yaitu sastrawan. Kenapa? Karena tema seperti itu (tentang kehidupan dan bukan hal yang futuristik) dirasa lebih meng-Indonesia.

Baca juga : Inilah Implementasi Program Persepsi Motor (PPM)

Alasan kedua, kayaknya 24 jam sehari terlalu minim buat siswa yang aktif. Bayangkan, jam tujuh sampai jam satu siang adalah waktu sekolah. Belum lagi les sana-sini. Buat yang masuk sekolah unggul, mungkin ada pelajaran tambahan. Belum lagi ekskul. Bisa dibilang, dari pagi sampai sore padat dengan kegiatan. Terus,  malamnya, buat mengerjakan PR. Kapan dong waktu untuk membaca hal-hal lain selain pelajaran di sekolah? Buat pelajar yang kurang aktif sekalipun, akan lebih nikmat nongkrong, ngumpul, daripada membaca.

Faktor lain, banyak siswa tidak mengetahui dan menanyakan apa guna membaca untuk masa depan. Apakah guru pernah menanyakan buku yang pernah dibaca siswanya? Misal, menanyakan buku sastra apa saja yang sudah dibaca dan meminta menceritakan ke teman-teman. Atau mendiskusikannya. Apakah pernah?

Mungkin hal di atas itu seperti pertanyaan untuk anak SD. Tapi, karena tidak ada pertanyaan seperti itu untuk sekolah yang lebih tinggi dari SD, para remaja (siswa) seakan tidak mempunyai tuntutan untuk membaca.

Baca juga : Tanoto Foundation Bantu Para Guru Mengelola BOS

Satu hal penting, teknologi juga dapat mengurangi minat orang membaca. Contoh yang paling dekat, internet. Banyak yang betah face to face dengan komputer hanya untuk membuka situs web penyanyi kondang. Atau mencari informasi terkini dari situ, ketimbang membaca buku berbab-bab, tebal, dengan ukuran huruf subscript.

Tapi apakah dengan begitu kita akan menyalahkan teknologi? Jelas, teknologi lah yang sangat kita perlukan sekarang.

So, sekarang apa yang akah kita lakukan? Program Bulan Bahasa memang tepat, namun sebanyak apapun program dijalankan, tanpa mengetahui dan sadar akan fungsi dan guna membaca, pasti usaha itu akan sia-sia. Itulah yang penting.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *