Centre Point Bandung, Dulunya Toko Alat Musik Terkemuka

Centre Point BandungCentre Point Bandung terletak di perempatan Jalan Braga dan Suniaraja sudah ada sejak 1925. Perancangnya adalah arsitek Belanda yang karyanya banyak menghiasi Kota Bandung, CP Wolff Schoemaker. Sejak 1980-an, gedung tersebut dihuni toko perlengkapan olah raga bernama Centre Point. Sebelumnya, gedung itu ditempati toko alat musik, Naessens & co. Berdirinya Naessens & co tidak bisa lepas dari perjalanan hidup sang penggagasnya, Willebrordus Josephus Theodorus Naessens. Pria yang akrab disapa Willem itu merupakan pianis ternama kelahiran Zaltbommel, Belanda.

Pada akhir Abad ke-19, Willem menjalani konser di Hindia Belanda. Di setiap konsernya di tanah Indonesia, dia selalu menggunakan piano pabrikan Eropa. Akan tetapi, Willem kerap merasa tak puas dengan kualitasnya. Material yang digunakan dianggap tidak cocok dengan iklim di nusantara. Bahan kayunya dinilai rentan diserang hama dan iklim tropis.

Menghadapi kondisi tersebut, Willem berpikir bahwa perlu ada piano yang cocok dengan iklim tropis. Dia pun memutuskan untuk membuka toko alat musik di Surabaya pada 1891 bernama Naessens & co. Mulanya Naessens & co hanya fokus menjual instrumen musik impor, terutama piano. Namun, tak lama, Naessens mulai memproduksi piano sendiri berbahan kayu jati yang lebih kuat dan tahan lama. Lebih penting lagi, material tersebut cocok dengan iklim tropis di Hindia Belanda.

Dalam membuat piano, Naessens & co tetap mengimpor piano dari Eropa tanpa kabinetnya. Para tukang kayu Tionghoa dan Jawa kemudian membuat kabinet untuk membungkus piano tersebut sebelum dilabeli merek Naessens. Hasilnya, piano Naessens banyak diminati dan bisnisnya pun sukses besar. Enam tahun berselang, Naessens membuka cabang di Batavia pada 1897. Kemudian pada 1911, cabang ketiga dibuka di Semarang. Lalu 1913, dua cabang lain berdiri di Medan dan Yogyakarta. Saat itu, Naessens & co memiliki tak kurang dari 200 pegawai. Di Bandung, cabang Naessens & co baru dibuka pada 1936. Walaupun sebenarnya Willem sudah kembali ke Belanda pada 1903 untuk melakukan ekspansi bisnis di negeri asalnya serta menjajaki kerja sama dengan sebuah perusahaan Jerman untuk membuat piano otomatis. Dia meninggal dunia pada 1915 dalam kecelakaan mobil. Akan tetapi, bisnisnya tetap berjalan. Semua toko Naessens di Hindia dikelola orang kepercayaannya.

Kini setelah direnovasi menjadi Centre Point Bandung dan meski Naessens & co sudah tidak beroperasi lagi, piano pabrikannya masih beredar di Indonesia. Kualitas materialnya yang mumpuni, membuat piano Naessens & co menjadi buruan kolektor barang antik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *