Suara Koala yang Unik

suara-koala-yang-unikKoala mampu menghasilkan suara dengan nada rendah, 20 kali lebih rendah daripada rata-rata hewan seukurannya. Marsupial atau hewan berkantong yang terkenal sebagai hewan yang gemar tidur itu ternyata mengalami evolusi organ vokal sehingga mampu menghasilkan suara bernada rendah.

Temuan itu merupakan hasil penelitian para ilmuwan dari University of Sussex, Inggris, yang dimuat dalam jurnal Current Biology baru-baru ini.

Koala memiliki sepasang pita suara ekstra di luar pangkal tenggorok yang berguna saat mereka melakukan panggilan kawin. Nada lenguhan koala itu 20 kali lebih rendah daripada rata-rata hewan seukurannya. Suara serendah itu lazim dimiliki oleh hewan yang memiliki ukuran sebesar gajah.

Tinggi dan rendah nada panggilan dapat disamakan dengan ukuran tubuh hewan karena suara berasal dari pangkal tenggorok atau semacam ‘kotak suara’ pada manusia. Organ tersebut memiliki katup dengan dua bibir atau pita di atasnya.

Getaran pada pita itulah yang menimbulkan suara ketika berbicara. Mamalia kecil dengan bobot 8 kg seperti koala cenderung memiliki pangkal tenggorok yang pendek dan pita suara yang tipis, seperti senar pada alat musik yang menghasilkan nada suara tinggi.

Uniknya, saat beberapa peneliti membongkar jaringan vokalnya sang koala, para peneliti mendapatkan ukuran yang lebih besar pada lipatan vokalnya. Pita suara pada koala terbagi dari saluran panjang yang terlipat dipalet lembut diantara tenggorok sisi atas (faring) serta rongga hidung. Saat koala  melakukan napas dalam, koala-koala tersebut bisa mendorong udara melewati lipatan vokal dan mengeluarkan suara yang memiliki nada rendah. Lipatan itu dikenal dengan nama velar.

Pita suara velar berukuran tiga kali lebih panjang, dengan berat sekitar 700 kali lebih berat daripada pita suara pangkal tenggorok.

Struktur yang lebih besar dapat berosilasi pada frekuensi yang lebih rendah. Sebagaimana senar pada leher gitar yang ditekan jari akan meningkatkan frekuensi suara, begitu pun senar tebal akan menghasilkan frekuensi yang lebih rendah.

“Keadaan yang sama berlangsung pada manusia saat mendengkur, tetapi dengan catatan fungsi langit-langit yang lunak tidak hanya untuk menghasilkan suara,” kata Dr. David Reby, salah seorang anggota tim peneliti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *