Usia Alam Semesta Lebih Tua 80 Juta Tahun

cahaya-big-bangPengujian terbaru tentang lahirnya alam semesta terkait perputaran dan kecepatan kosmos semakin dipahami para ahli astronomi, yakni bagaimana alam semesta itu berkembang dan mati.

Alam semesta yang terlihat sekarang ini berusia 13,8 miliar tahun, 80 juta tahun lebih tua daripada yang diperkirakan sebelumnya. Secara teknis, masih banyak persoalan pada energi gelap yang misterius.

Semuanya berawal dari gambar kecil yang berasal dari fosil sinar dan suara. Para ahli dari Paris hingga Washington merayakan kemenangan atas sebuah penemuan tentang kosmos yang berasal dari gambar yang diambil dari satelit Eropa.

Teleskop angkasa luar Planck memetakan latar belakang radiasi dari awal mula alam semesta yang sekarang diperkirakan berumur 13,8 miliar tahun. Hasil perputaran yang disebut inflation bahwa alam semesta meledak dan berkembang cepat dalam sebuah benturan sepersekian detik setelah Big Bang yang menciptakan kosmos.

Peta evolusi alam semesta, berdasarkan pantulan suara dan fosil sinar yang kembali dalam miliaran tahun, memperkuat beberapa prediksi yang dibuat beberapa dekade lalu, yang semata-mata berbasis pada konsep matematika.

Menurut ahli fisika dari Columbia University, Brian Greene, manusia membawa satelit ke angkasa dan kita memprediksi apa yang akan kita lihat tentang alam semesta. Sebuah kemenangan yang menakjubkan dari pendekatan matematika untuk menggambarkan alam. Satelit mengukur variasi temperatur di angkasa, yang meningkat dari proses yang diambil dari tempat yang berjarak 14 miliar tahun. Sungguh menakjubkan.

Teori Big Bang mengatakan alam semesta lebih kecil daripada sebuah atom pada mulanya. Namun, dalam sepersekian detlk meledak, dingin, dan cepat menyebar dalam kecepatan cahaya Itulah ide yang disebut para ahli dengan inflation.

Hal itu berbasis dari teori relativitas umum Einstein, sekitar 90 tahun lalu. Radiasi gelombang mikrokosmos adalah cahaya yang berasal dari masa 380 juta tahun setelah Big Bang. Sebelum masa itu, semesta sangat rapat sehingga cahaya tidak dapat bergerak karena terjebak dalam plasma proton dan elektron.

Radiasi tersebut pertama kali terdeteksi pada 1964. Selanjutnya, pernah dideteksi dengan wahana NASA, COBE, yang diluncurkan pada 1989, dan WMAP pada 1991. Kini Planck dengan sensitivitasnya berhasil mendapatkan variasi temperatur pada radiasi latar gelombang mikrokosmos secara lebih detail.

Variasi dari tempat ke tempat dalam peta yang dibuat Planck memberitahukan kepada kita apa yang terjadi pada 10 nanodetik setelah Big Bang, ketika semesta mengembang triliunan kali. Selain menunjukkan umur alam semesta, temuan terbaru juga memberitahukan komposisinya. Materi biasa seperti yang menyusun bintang, galaksi, planet dan sebagainya berjumlah sangat kecil, hanya 4,9% dari seluruh semesta.

Sementara itu, materi gelap yang menyusun semesta mencapai 26,8%, mencapai seperlima lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Energi gelap yang terkait pada mengembangnya alam semesta terdiri atas 69% komponen semesta.

Teleskop Planck diharapkan terus mengirirnkan data sampai akhir tahun ini. Wahana senilai US$900 juta itu diluncurkan pada 2009, mengambil nama ahli fisika Jerman Max Planck, penggagas fisika kuantum. Dia memerlukan 15,5 bulan untuk memetakan langit, menguji apa yang disebut fosil cahaya dan suara pantulan dari Big Bang dengan melihat latar belakang radiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *